Menjelang penutupan Operasi Zebra 2025, evaluasi pada hari ke-13 (17-29 November 2025) mengungkapkan penguatan kinerja dan konsistensi di seluruh wilayah Indonesia. Kepala Korps Lalu Lintas Polri (Kakorlantas), Irjen Pol. Drs. Agus Suryonogroho, S.H., M.Hum., menyatakan bahwa hasil tersebut mencerminkan kemampuan organisasi dalam menjaga ritme, kualitas, dan ketepatan intervensi hingga fase akhir operasi.
Pada hari ke-13, kegiatan pembinaan dan penyuluhan (Binluh) mencapai 851.060, meningkat 1.176,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penyuluhan melalui berbagai kanal media berjumlah 2.979.228 kegiatan, dengan media sosial sebagai kontributor utama dalam membentuk opini positif dan kesadaran masyarakat terhadap keselamatan berlalu lintas.
Sebaran materi keselamatan di ruang publik tercatat sebanyak 4.606.597 kegiatan, menunjukkan peningkatan kampanye visual terutama dalam tujuh hari terakhir yang diikuti oleh peningkatan mobilitas masyarakat. Kegiatan preventif juga mengalami kenaikan signifikan, mencapai 4.053.628 kegiatan atau naik 229,8 persen dari periode yang sama pada tahun 2024. Titik rawan di perkotaan dan jalur antar-kota menjadi fokus intensitas pencegahan guna menurunkan potensi pelanggaran.
Pengawasan terhadap angkutan barang dan kendaraan umum tetap dijaga dengan 137.199 kegiatan ramp check. Pemeriksaan kelengkapan kendaraan di institusi pendidikan dan perusahaan mencapai 244.143 kegiatan, menunjukkan respons positif dari sektor pendidikan dan dunia usaha terhadap operasi ini.
Di ruang publik, penempatan personel mencapai 574.844 titik dan patroli di titik rawan mencapai 772.771 kegiatan. Tugas pengaturan dan pengendalian lalu lintas (turjawali) mencapai 2.324.671 kegiatan, menunjukan kesiapan jajaran menangani peningkatan kepadatan lalu lintas menjelang akhir bulan.
Penegakan hukum tercatat dengan total perkara 1.690.140, naik 75,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pelaksanaan ETLE (Electronic Traffic Law Enforcement) statis dan mobile mencapai 193.828 perkara menjadi kunci objektivitas penindakan, khususnya di wilayah perkotaan dengan infrastruktur lengkap. Sebaliknya, tilang manual berkurang menjadi 20.042 perkara sesuai kebijakan pembatasan penerapan manual, sementara teguran lapangan tetap tinggi sebanyak 1.476.270 kegiatan dengan pendekatan edukatif yang efektif mengurangi resistensi publik.
Kakorlantas menyoroti peningkatan pelanggaran berpotensi fatal seperti pelanggaran helm SNI (392.794 perkara), penggunaan ponsel saat berkendara untuk roda dua 6.246 dan roda empat 6.078 perkara, serta fenomena balap liar yang mencapai 5.692 perkara, khususnya pada malam hari di wilayah metropolitan dan kota besar. Pelanggaran pengendara di bawah umur juga masih menjadi tantangan besar dengan 68.951 kegiatan pada roda dua dan 10.005 pada roda empat.
Fenomena balap liar menjadi fokus pengawasan dengan peningkatan pada akhir pekan di koridor tanpa pengawasan CCTV sehingga dibutuhkan integrasi patroli fisik dan intelijen yang lebih intensif. Penggunaan ponsel saat mengemudi dominan terjadi pada jam padat di perkotaan, sehingga kampanye di titik lampu merah dan kawasan perkantoran perlu diperkuat. Sementara itu, pelanggaran pengendara muda memerlukan pendekatan lintas sektor bersama sekolah dan orang tua.
Sebagai arahan utama di fase akhir operasi, Kakorlantas memberi lima penekanan: mempertahankan intensitas Binluh dan Penluh untuk mendominasi pesan keselamatan di ruang publik; memperkuat kegiatan preventif di titik rawan; mengoptimalkan penggunaan ETLE; fokus pada penindakan pelanggaran berpotensi fatal seperti balap liar dan penggunaan ponsel; serta memaksimalkan publikasi positif guna menjaga sentimen publik tetap stabil hingga penutupan operasi.
Irjen Pol. Drs. Agus Suryonogroho menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran yang telah menjaga stabilitas dan kualitas pelaksanaan operasi hingga hari ke-13. Beliau mengajak masyarakat untuk terus mendukung Operasi Zebra 2025 dengan mematuhi peraturan lalu lintas dan mengutamakan keselamatan di jalan raya. Korlantas Polri berkomitmen mempertahankan profesionalitas dan kualitas pelayanan sampai berakhirnya operasi.
